Pendidikan, antara Idealisme Sistem dan Realitas Generasi Muda Aceh

 Pendidikan, antara Idealisme Sistem dan Realitas Generasi Muda Aceh

Oleh: Ramadhan Al Faruq

Saya sepakat dengan sebagian besar argumentasi yang disampaikan Tarmizi. Bahkan saya melihat tulisannya berhasil membawa diskusi ini ke lapisan yang lebih dalam, yaitu mempertanyakan fondasi sistem pendidikan kita yang selama ini lebih menghargai lamanya seseorang berada di bangku sekolah daripada apa yang benar-benar ia kuasai.

Kritik itu penting. Bahkan perlu terus didiskusikan.

Tetapi setelah membaca tulisannya, ada satu pertanyaan yang terus terlintas di pikiran saya: sembari kita membicarakan perubahan sistem yang besar itu, apa yang harus kita lakukan terhadap anak-anak muda yang hari ini sedang berada di dalam sistem tersebut?

Karena di sinilah letak perbedaan fokus pandangan kami.

Tarmizi berbicara tentang pembenahan paradigma pendidikan dalam jangka panjang. Saya setuju. Namun kita juga harus jujur bahwa mengubah sistem pendidikan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Ia membutuhkan perubahan regulasi, kurikulum, cara pandang birokrasi, cara pandang sekolah, bahkan cara pandang masyarakat terhadap ijazah dan kesuksesan.

Itu pekerjaan besar. Dan pekerjaan besar biasanya berjalan lambat.

Sementara itu, setiap tahun ribuan anak muda Aceh tetap lulus dari SMA. Mereka tetap keluar dari gerbang sekolah dengan segala harapan dan kegelisahannya. Sebagian melanjutkan kuliah, sebagian mencari pekerjaan, sebagian lagi masih kebingungan harus melangkah ke mana.

Mereka tidak bisa menunggu sampai reformasi pendidikan selesai dirumuskan.

Mereka membutuhkan jawaban hari ini.

Karena itu saya melihat usulan tentang penguatan keterampilan dan life skill yang saya sampaikan sebelumnya bukanlah tandingan dari gagasan reformasi pendidikan yang ditawarkan Tarmizi. Justru sebaliknya, ia adalah jembatan yang perlu dibangun agar generasi yang sedang berada di tengah jalan tidak menjadi korban dari proses perubahan yang membutuhkan waktu panjang.

Menurut saya, persoalan pendidikan di Aceh tidak hanya terletak pada apa yang terjadi di dalam ruang kelas. Persoalan yang sering luput kita bicarakan adalah apa yang terjadi setelah anak keluar dari ruang kelas itu.

Kita terlalu sering membahas bagaimana anak belajar, tetapi terlalu jarang membahas bagaimana anak akan hidup setelah selesai belajar.

Padahal bagi banyak keluarga di Aceh, pertanyaan terbesar bukanlah soal teori pendidikan atau desain kurikulum. Pertanyaan mereka jauh lebih sederhana dan lebih membumi yaitu “Setelah tamat sekolah, anak saya akan jadi apa?”

Mungkin demikianlah sesungguhnya kegelisahan yang dipendam oleh banyak orang tua.

Faktanya, tidak semua orang tua memahami perencanaan pendidikan dan karier. Tidak semua siswa memilih SMA atau SMK berdasarkan minat dan bakat. Ada yang memilih karena ikut teman, karena dorongan keluarga, karena sekolahnya paling dekat, atau sekadar karena tidak tahu pilihan lain yang tersedia.

Kita juga harus mengakui bahwa tidak semua lulusan SMK terserap ke dunia kerja. Tidak semua lulusan perguruan tinggi memperoleh pekerjaan yang layak. Bahkan tidak sedikit sarjana yang akhirnya bekerja di bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan jurusan yang mereka tempuh selama bertahun-tahun.

Karena itu, menurut saya persoalan yang kita hadapi lebih kompleks daripada sekadar ketidaksesuaian antara pendidikan dan dunia kerja. Ada jarak yang cukup lebar antara sistem pendidikan yang kita bangun dengan realitas kehidupan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Saya setuju ketika Tarmizi mengatakan bahwa pendidikan harus berbasis kompetensi. Tetapi kita juga harus memperjelas secara spesifik kompetensi seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh generasi muda Aceh hari ini?

Jika yang dimaksud hanya kompetensi akademik, maka kita berisiko mengulang kesalahan yang sama. Jika yang dimaksud hanya keterampilan teknis untuk bekerja, kita juga sedang menyederhanakan manusia menjadi sekadar alat produksi.

Bagi saya, generasi muda Aceh membutuhkan lebih dari itu.

Mereka membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan memanfaatkan teknologi, kemampuan membaca peluang, kemampuan berwirausaha, dan yang tidak kalah penting, kemampuan bertahan menghadapi perubahan zaman yang bergerak semakin cepat.

Dengan kata lain, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang berpikir, tetapi juga mampu hidup.

Dan di atas semuanya, saya ingin menegaskan bahwa gagasan untuk mendekatkan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja tidak berarti mengubah sekolah menjadi pabrik tenaga kerja.

Saya tidak pernah membayangkan pendidikan hanya bertugas menghasilkan buruh yang patuh terhadap kebutuhan pasar.

Pendidikan tetap harus menjadi ruang yang melahirkan manusia yang merdeka. Manusia yang mampu berpikir dengan akalnya sendiri, berani menyampaikan pendapatnya, dan memiliki keberanian untuk menentukan jalan hidupnya.

Tetapi pengalaman hidup juga mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan berpikir sering kali membutuhkan fondasi ekonomi yang cukup kuat.

Kita sering melihat orang-orang yang memiliki idealisme, memiliki keberanian, dan memiliki pemikiran yang kritis. Namun ketika berhadapan dengan kebutuhan hidup, tekanan ekonomi, dan ketergantungan terhadap pihak lain, ruang gerak mereka perlahan menyempit. Tidak sedikit yang akhirnya terpaksa berkompromi dengan keadaan.

Karena itu saya percaya bahwa pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki daya hidup.

Manusia yang dapat menjaga integritasnya karena ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Manusia yang bebas menyuarakan pikirannya karena ia tidak sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang lain.

Manusia yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat karena ia memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya terlebih dahulu.

Pada akhirnya, yang perlu kita perjuangkan bukan hanya reformasi sistem pendidikan, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan setiap anak muda Aceh menemukan jalannya menuju kemerdekaan. Kemerdekaan dalam berpikir, kemerdekaan dalam menentukan pilihan hidup, dan kemerdekaan ekonomi yang membuat semua itu dapat dijalankan dengan lebih bermartabat.

Karena itulah, secara prinsip saya sejalan dengan diagnosis yang disampaikan Tarmizi. Hanya saja, saya ingin mengingatkan bahwa sembari kita memperjuangkan perubahan sistem yang besar dan mendasar itu, jangan sampai kita melupakan anak-anak muda yang hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan. Mereka tidak sedang menunggu teori yang sempurna.

Mereka sedang menunggu kesempatan, pendampingan, dan jalan keluar yang nyata. Dan sekalu lagi menurut saya, di situlah tanggung jawab kita dimulai.(*)

Redaksi

http://hababerita.com

Lihat Dunia Lebih Dekat

Related post