Paradoks Perkotaan: Modernisasi Kota dan Kehidupan Masyarakat di Kolong Jembatan di Banda Aceh
Oleh : Redha Saputra dan Silfa Amelia
Mahasiswa Sosiologi, Universitas Syiah Kuala
Kota Banda Aceh terus mengalami perkembangan dalam berbagai sisi, mulai dari pembangunan infrastruktur, jalan raya, pusat pelayanan masyarakat, hingga kawasan perkotaan yang semakin tertata.
Namun, di balik kota yang terus berkembang, masih ditemukan fenomena masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, bahkan tinggal di bawah kolong jembatan. Kondisi ini menjadi gambaran nyata adanya paradoks perkotaan, ketika kemajuan kota tidak selalu berjalan seimbang dengan kesejahteraan seluruh masyarakat.
Beberapa tahun terakhir, pemerintah Kota Banda Aceh melalui aparat melakukan penanganan terhadap masyarakat yang ditemukan tinggal di area bawah jembatan. Salah satu kasus ditemukan di kawasan Jembatan Lamnyong, ketika sebuah keluarga hidup di lokasi yang tidak layak sebelum akhirnya dipindahkan ke rumah singgah untuk mendapatkan penanganan sosial.
Fenomena serupa juga pernah ditemukan di kawasan Pango Raya, Banda Aceh, di mana aparat melakukan penertiban terhadap Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang tinggal di bawah jembatan. Pemerintah menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan masalah ekonomi, serta kurangnya akses terhadap tempat tinggal yang layak. Penanganan dilakukan dengan melibatkan Satpol PP untuk penertiban serta dinas sosial dan layanan rehabilitasi untuk memberikan bantuan dan pembinaan kepada masyarakat terlantar.
Dalam perspektif sosiologi perkotaan, kondisi masyarakat yang tinggal di bawah kolong jembatan dapat disebut sebagai bentuk kemiskinan perkotaan, marginalisasi sosial, atau permukiman informal. Fenomena ini sering muncul akibat urbanisasi yang tidak diimbangi oleh tersedianya lapangan pekerjaan, biaya hidup yang tinggi, dan terbatasnya akses hunian murah. Banyak masyarakat datang ke kota dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik, namun sebagian justru terjebak dalam kondisi ekonomi yang sulit.
Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi memang terus berkembang, tetapi persoalan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan. Modernisasi kota seharusnya tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam memastikan tidak ada warga yang hidup tanpa tempat tinggal layak. Kehadiran rumah singgah, bantuan sosial, pelatihan kerja, hingga pemerataan ekonomi menjadi langkah penting agar pembangunan kota dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Fenomena masyarakat yang tinggal di bawah kolong jembatan menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan sebuah kota, masih ada kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih. Oleh karena itu, pembangunan perkotaan tidak hanya tentang gedung yang tinggi dan jalan besar, tetapi juga tentang bagaimana kota mampu menghadirkan kehidupan yang manusiawi bagi semua masyarakatnya.
Referensi:
Diskominfo Kota Banda Aceh. (2020). Warga Tergusur yang Sempat Dipindahkan ke Rumah Singgah Kini Sudah Kembali Bersama Keluarga. Diakses dari diskominfo.bandaacehkota.go.id
Lamuri Online. (2023). Satpol PP dan WH Amankan PMKS di Bawah Jembatan Pango. Diakses dari lamurionline.com
Malau, W. (2013). Dampak Urbanisasi terhadap Pemukiman Kumuh (Slum Area) di Daerah Perkotaan. JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 5(2).