Moral Generasi Muda Makin Runtuh, Orang Baik Bisa Apa?

 Moral Generasi Muda Makin Runtuh, Orang Baik Bisa Apa?

Oleh : Ramadhan Al Faruq (Alumni IAIN Ar-Raniry)

“Hana cara le ka diboh lom aneuk bayi.”
Begitu komentar seorang teman saya ketika kami membaca berita tentang penemuan bayi yang dibuang di Aceh Jaya.

Belum selesai kami mencerna kabar itu, teman yang lain menimpali sambil memperlihatkan berita di ponselnya.
“Memang hancô that generasi tanyoe ka. Jeh ka kalon mahasiswa UI dijak kuliah tapi akai lage binatang.”
Ia merujuk pada kasus pelecehan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dalam grup WhatsApp mereka.

Tak lama kemudian seorang teman lain ikut menyahut,
“Nyan ka meuhat but gop, nyan ka kalon lom. Na yang hancô bak jaroe yah droe jih.”
Ia menunjuk berita dari Kota Langsa tentang seorang ayah yang tega menodai anaknya sendiri.

Percakapan di warung kopi itu mungkin terdengar biasa. Tetapi sebenarnya ia menggambarkan satu kegelisahan besar yang sedang dirasakan banyak orang yaitu ada sesuatu yang sedang rusak dalam masyarakat kita.

Dan yang paling menakutkan, kerusakan itu bukan lagi terjadi di pinggiran, tetapi sudah masuk ke pusat kehidupan kita sendiri bahkan di tempat di mana seharusnya nilai-nilai moral itu diajarkan seperti perguruan tinggi.

Kita sedang menyaksikan satu fenomena yang memprihatinkan yaitu keruntuhan moral generasi muda yang terjadi secara terang menderang.

Terkadang kita terengang ketika membaca berita tentang banyaknya remaja yang terlibat dalam praktik pergaulan bebas bahkan prostitusi, sementara di berbagai kesempatan lain, kita menyaksikan balapan liar, tawuran, narkoba, begal, hingga berbagai bentuk kriminalitas yang semakin sering melibatkan anak-anak muda.

Ironisnya, tempat-tempat yang selama ini kita anggap sebagai benteng moral pun tidak sepenuhnya aman. Kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi seperti yang terjadi di universitas Indonesia menjadi bukti pahit bahwa krisis ini sudah merembes ke mana-mana dan yang lebih menyakitkan lagi ketika hal tercela itu bahkan dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya jadi pelindung seperti yang terjadi di Langsa.

Lalu mengapa ini bisa terjadi? Siapa yang salah?

Padahal kita bukan masyarakat yang kekurangan orang pintar. Gelar akademik tersebar di mana-mana. Sarjana, doktor, bahkan profesor semakin banyak jumlahnya. Kita juga memiliki tokoh-tokoh agama dengan berbagai gelar kehormatan mulai dari Tgk, Abana, Abati hingga Abu dan lain-lain.

Namun anehnya, semua itu seperti tidak cukup kuat untuk membendung kerusakan moral yang semakin meluas.

Yang lebih ironis lagi adalah kebiasaan kita mencari kambing hitam.

Ketika anak bermasalah, orang tua menyalahkan sekolah.
“Rugo ku jok sikula.”

Ketika sekolah tidak mampu mengendalikan muridnya, mereka menyalahkan orang tua.
“Ureung chik jih hana dipeduli sapeu.” bahkan orang tuanya sendiri yang merusak.

Jika semuanya gagal, maka pemerintah yang disalahkan. “Pemerintah lale ngon proyek, generasi ka hancô.”

Semua pihak sibuk melempar tanggung jawab, seakan-akan kerusakan ini tidak ada hubungannya dengan diri kita sendiri.

Padahal Rasulullah telah mengingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, dan lingkunganlah yang kemudian membentuknya.

Artinya, ketika generasi muda rusak, itu bukan semata kesalahan mereka. Itu adalah cermin kegagalan kita sebagai orang dewasa.

Rumah yang seharusnya menjadi madrasah pertama kini sering kehilangan fungsinya. Banyak orang tua terlalu sibuk mengejar pekerjaan, harta, dan ambisi pribadi sehingga lupa bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab utama.

Sekolah pun sering terjebak dalam perlombaan nilai dan prestasi akademik, sementara pendidikan karakter dan moral justru semakin terpinggirkan.

Di sisi lain, masyarakat yang seharusnya menjadi benteng terakhir sering permisif terhadap berbagai gejala kerusakan moral yang terjadi kali, kita lebih banyak hanya menjadi penonton. Kita baru bereaksi ketika tragedi sudah terjadi.

Akibatnya, anak-anak kita tumbuh dalam ruang sosial yang kosong dari bimbingan.

Mereka mencari pelarian di jalanan. Balapan liar menjadi hiburan. Narkoba menjadi pelarian. Pergaulan bebas menjadi tempat mencari perhatian.

Padahal jika kita mau jujur, sebagian besar dari mereka bukanlah anak-anak jahat. Mereka hanyalah anak-anak yang kehilangan arah.

Ketika seorang remaja mengebut di jalanan tengah malam, mungkin itu bukan sekadar kenakalan. Bisa jadi itu adalah bentuk pelampiasan dari energi muda yang tidak pernah mendapatkan saluran yang sehat.

Ketika seorang remaja terjerumus dalam pergaulan bebas bahkan sampai melahirkan anak hasil hubungan di luar nikah, bisa jadi itu bukan semata karena ia tidak tahu malu, tetapi karena ia tidak pernah merasakan kehangatan keluarga.

Ketika seorang anak terjerumus dalam kriminalitas, bisa jadi itu karena ia tumbuh di lingkungan yang tidak pernah memberinya harapan.

Karena itu kenakalan remaja seharusnya tidak dilihat hanya sebagai persoalan pelanggaran hukum. Ia adalah gejala dari sistem sosial yang sedang sakit.

Dan penyakit sosial tidak bisa disembuhkan hanya dengan hukuman, kita membutuhkan perubahan yang lebih mendasar.

Orang tua harus kembali mengambil peran sebagai pendidik utama dan pemberi rasa aman kepada anak-anaknya, bukan sebaliknya malah merusak seperti yang terjadi di Langsa. Anak tidak hanya membutuhkan uang saku dan fasilitas, tetapi juga perhatian, dialog, dan kasih sayang.

Sekolah harus berani mengembalikan pendidikan karakter sebagai inti dari proses belajar, bukan sekadar pelengkap.

Pemerintah dan masyarakat juga tidak boleh lagi abai. Desa dan gampong harus menjadi ruang tumbuh yang sehat bagi generasi muda, tempat mereka bisa belajar, berolahraga, berkarya, dan menemukan jati diri di bawah pendampingan orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya.

Jangan sampai kita sibuk “cet langet” membangun berupa-rupa fasilitas yang kita anggap sebagai simbul kemajuan, tapi di saat yang sama kita lupa membangun manusianya.

Karena jika kita gagal membina generasi muda hari ini, maka suatu saat kita akan memetik akibatnya sendiri.

Siapa mereka yang balapan liar di jalanan?
Siapa mereka yang terjerumus narkoba?
Siapa mereka yang menjadi pelaku kejahatan?
Siapa mereka yang melakukan pelecehan seksual?
Siapa mereka yang terlibat dalam pergaulan bebas?
Siapa mereka yang membuang anak bayi yang dilahirkan dari hasil hubungan di luar nikah?

Mereka bukan orang asing, tapi mereka adalah anak-anak kita sendiri, anak-anak yang luput dari kasih sayang, bimbingan dan pendampingan kita yang mengaku diri orang baik.

Orang tua kita dahulu sudah mengingatkan dengan adagium yang cukup tajam terkait tanggung jawab ini yaitu “Bek peumale kaom.”

Jangan biarkan generasi kita menjadi aib bagi masyarakatnya.

Karena menyelamatkan satu anak tidak cukup dilakukan oleh satu orang. Ia membutuhkan keluarga yang peduli, sekolah yang mendidik, masyarakat yang menjaga, dan negara yang hadir.

Jika semua pihak terus saling menyalahkan, maka kerusakan ini akan terus berlanjut.

Tetapi jika kita berani mengakui bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama dan kemudian kita semua mau mengambil peran yang sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, maka masih ada harapan untuk menyelamatkan masa depan generasi muda kita, tapi jika kita semua tetap acuh sambil menyalahkan orang lain, maka tunggulah kehancuran yang lebih parah dari yang kita saksikan hari ini.

“Barang siapa yang melihat kemungkaran (kerusakan moral) maka cegahlah dengan tangan (kekuasaanmu), jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisan (nasehat) mu dan jika kamu juga tidak mampu maka cegahlah dengan (membenci) dalam hatimu dan itu adalah selemah-lemah iman” Demkian titah Rasulullah 14 abad yang lalu. (*)

Redaksi

http://hababerita.com

Lihat Dunia Lebih Dekat

Related post