Disiplin atau Mati?

 Disiplin atau Mati?

Ramadhan Al-Faruq. [Dok : Istimewa]

Penulis: Ramadhan Al Faruq, Pemerhati Pendidikan dan Sosial di Banda Aceh

Sekitar tiga bulan yang lalu dunia dikejutkan oleh peristiwa penculikan presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh tentara Amerika Serikat.

Sebulan kemudian kita kembali dihebohkan oleh berita keberhasilan pasukan keamanan Mexico juga dibantu intelijen Amerika Serikat yang berhasil melumpuhkan salah satu Bos Cartel Narkoba paling berbahaya di Dunia yaitu El Mencho.

Tak lama kemudian kita semua kembali terhentak dengan peristiwa terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khameni dalam serangan kilat pasukan gabungan Amerika dan Israel.

Semua itu seakan terjadi begitu mudah, padahal target yang dilumpuhkan bukanlah orang sembarangan.

Ya, dalam rentang tiga bulan terkahir dunia berkali-kali dikejutkan oleh operasi-operasi yang tampak begitu presisi. Target yang dilumpuhkan bukanlah orang sembarangan, kepala negara, bos kartel narkoba, atau pemimpin tertinggi sebuah Negara yang dikenal memiliki sistem pengamanan sangat ketat. Mereka dijaga oleh pasukan keamanan terbaik, dilindungi oleh jaringan intelijen yang rumit, bahkan hidup dalam lingkaran pengamanan berlapis.

Namun kenyataannya tetap sama yaitu ketika ada sedikit saja celah, disiplin “hilang” maka semuanya runtuh dalam hitungan detik.

Dalam bahasa Aceh ada ungkapan yang sangat tepat menggambarkan keadaan ini yaitu “Silap mata putoh taku” sekali saja lengah, leher bisa putus.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut sebenarnya ada satu pesan yang tersirat dan sangat penting yaitu kekuatan sebesar apa pun tidak berarti tanpa disiplin.

Dan hukum ini berlaku di semua bidang kehidupan baik itu politik, militer, bisnis, hingga dunia pendidikan.

Disiplin adalah fondasi yang sering dianggap sepele

Dalam konteks dunia pendidikan misalnya, kita sering menemukan di banyak sekolah yang sibuk berbicara tentang kurikulum baru, program unggulan, fasilitas modern, atau metode pembelajaran inovatif. Benar bahwa semua itu penting. Namun sering kali kita lupa bahwa keberhasilan semua program itu bertumpu pada satu hal yang jauh lebih penting yaitu disiplin.

Program pendidikan terbaik sekalipun tidak akan berjalan jika kedisiplinan rendah.

Diakui atau tidak disiplin adalah kunci utama, mulai dari disiplin waktu guru misalnya, disiplin siswa dalam belajar, disiplin manajemen sekolah dalam menjalankan aturan, semua itu menentukan apakah program pendidikan benar-benar hidup atau hanya menjadi dokumen di atas kertas.

Banyak penelitian pendidikan menunjukkan bahwa disiplin memiliki hubungan yang sangat erat dengan prestasi belajar siswa. Berbagai studi di sekolah di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat kedisiplinan siswa berpengaruh signifikan terhadap capaian akademik dan kualitas proses belajar di sekolah.

Artinya, sekolah yang disiplin cenderung dan berpotensi lebih besar untuk menghasilkan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan sekolah lainnya yang tidak disiplin meskipun programnya sama-sama bagus.

Mengapa sekolah unggul selalu disiplin?

Perhatikan lembaga-lembaga pendidikan yang dikenal berhasil misalnya akademi militer, sekolah kedinasan, atau sekolah unggulan dengan reputasi kuat. Mereka boleh berbeda dalam kurikulum, metode, atau fasilitas, tetapi memiliki satu kesamaan yang sangat jelas yaitu budaya disiplin yang kuat.

Di tempat-tempat seperti itu disiplin bukan sekadar aturan, tetapi budaya. Waktu begitu dihargai, tanggung jawab dijaga dengan maksimal dan aturan ditegakkan secara serius dan konsisten.

Karena mereka memahami satu prinsip penting bahwa disiplin bukan musuh kreativitas, melainkan fondasi bagi profesionalitas. Tanpa disiplin, bahkan kecerdasan dan bakat sekalipun sering kali gagal berkembang secara maksimal.

Disiplin bukan kekerasan

Ada juga sebagian pihak yang mengakami kekhawatiran bahwa disiplin dapat mematikan daya kritis siswa. Kekhawatiran ini perlu dijawab secara jernih bahwa disiplin tidak selamnya identik dengan kekerasan.

Karena sejatinya disiplin adalah keteraturan, disiplin adalah konsistensi dan disiplin adalah tanggung jawab atau komitmen untuk menjalankan aturan yang disepakati.

Justru tanpa disiplin, kebebasan sering berubah menjadi kekacauan.

Sekolah yang terlalu longgar terhadap aturan biasanya menghadapi masalah klasik yaitu keterlambatan guru, siswa yang tidak fokus belajar, program yang tidak berjalan, dan pada akhirnya kualitas pendidikan yang stagnan.

Bahkan dalam ajaran Islam, disiplin memiliki tempat yang sangat penting.

Misalnya terkait dengan shalat, dalam Islam Ibadah shalat sendiri dibangun di atas konsep waktu yang sangat ketat. Shalat pada awal waktunya memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding shalat yang dilakukan di akhir waktu, dan shalat di luuar waktunya menjadi tidak bernilai sama sekali sekalipun itu lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menekankan ibadah, tetapi juga keteraturan dan disiplin dalam menjalankannya.

Nilai ini seharusnya menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan di daerah yang sangat kuat dengan identitas keislamannya seperti Aceh.

Aceh butuh revolusi disiplin pendidikan

Aceh memiliki banyak sekolah dengan potensi besar. Guru-guru yang kompeten, siswa yang cerdas, dan masyarakat yang memiliki perhatian tinggi terhadap pendidikan.

Namun potensi saja tidak cukup, tanpa disiplin yang kuat, semua potensi itu akan sulit berkembang. Oleh karena itu sekolah-sekolah di Aceh perlu berani melakukan satu langkah penting yaitu membangun kembali budaya disiplin secara serius.

Mula dari disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin manajemen hingga disiplin dalam menjalankan setiap program pendidikan yang telah diagendakan.

Jika disiplin ditegakkan dengan konsisten, insya Allah program-program unggulan yang telah disiapkan sekolah tidak lagi sekadar rencana di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi gerakan perubahan yang nyata.

Pada akhirnya pilihan kita sebenarnya sangat sederhana yaitu apakah kita mau menegakkan disiplin untuk membawa sekolah kita menjadi lebih maju? atau mengabaikan disiplin dan bersiap untuk menerima kemunduran yang akan terjadi secara perlahan?

Dalam dunia yang semakin kompetitif, sekolah yang tidak disiplin perlahan akan tertinggal, sementara sekolah yang membangun budaya disiplin akan bergerak maju lebih cepat.

Karena dalam dunia pendidikan hukum dasarnya sama seperti yang berlaku dalam aspek kehidupan lainnya, sedikit saja lengah, semuanya bisa berubah menjadi game over dan bersiaplah untuk menangisi keadaan.

Redaksi

http://hababerita.com

Lihat Dunia Lebih Dekat

Related post