‘Trok Heut Atawa’ Terhujut Cita-Cita: Pendidikan Aceh dalam Tafsir Abu Laot yang di Intepretasi oleh Abu Master

 ‘Trok Heut Atawa’ Terhujut Cita-Cita: Pendidikan Aceh dalam Tafsir Abu Laot yang di Intepretasi oleh Abu Master

Abu Laot bukan sekadar nama. Ia adalah tafsir simbolik tentang pengetahuan yang luas bak samudra, dan kebijaksanaan yang lahir dari kedalaman pengalaman. “Abu” menjadi penanda bagi sosok yang dituakan, tempat bertanya, tempat kembali ketika arah hilang. Maka, ketika nama itu melekat pada Murthalamuddin, ia bukan hanya pejabat, tapi pembaca realitas Aceh dengan mata kebudayaan dan hati rakyat kecil.

Sebagai PLT Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin datang dengan cara pandang yang berbeda. Ia lahir dari arus bawah, mendengar denyut nelayan, petani, mak-mak penjual tiram, dan anak anak pemotong jerami baru baru ini di sawah. Dari sana lah ia membangun narasi tentang pendidikan yang tak tercerabut dari akar kehidupan.

Analisis : Dari gaya komunikasinya di media sosial, terlihat satu pola, ilmu tidak boleh tinggal di menara gading. Ia harus turun ke lumpur sawah, menyelam ke laut, dan berdebu di jalanan. pendidikan Aceh mungkin akan diarahkan pada revitalisasi pendidikan vokasi dan keterampilan lokal serta peluang yang bersentuhan dengan sektor ril Aceh.

Sekolah bukan hanya tempat hafalan, tapi ladang praktik yang melahirkan kemandirian ekonomi. Murid SMK diajarkan bukan sekadar teori mesin, tapi bagaimana mengelola bengkel sendiri.

Siswa pertanian belajar menanam yang bisa dijual, bukan hanya ditanam.
Inilah pendidikan yang meuhaba meugura, meugrak, menumbuhkan dan memberi hasil.

Abu Laot sering bicara tentang kemandirian fiskal Aceh. Di dunia pendidikan, gagasan ini bisa diterjemahkan menjadi sistem yang tidak terlalu bergantung pada pusat.
Aceh punya Dana Otonomi Khusus, tapi selama ini belum sepenuhnya mengubah wajah pendidikan.

Abu Laot mungkin akan mendorong agar dana tersebut digunakan lebih tepat sasaran, membangun sekolah berbasis ekonomi lokal, riset yang relevan, dan pemberdayaan guru sebagai motor perubahan sosial.

Kemandirian juga berarti membangun pikiran kritis anak muda, agar mereka tidak sekadar menjadi penonton pembangunan, tapi pelaku utama.

Dalam video-videonya, Murthalamuddin selalu menyoroti orang-orang kecil, mak-mak penjual tiram, petani, nelayan. Itu bukan tanpa alasan. Ia sedang mengirim pesan bahwa pendidikan harus menumbuhkan rasa hormat pada kerja keras dan budaya lokal.

Anak sekolah Aceh harus tahu bagaimana orang tuanya berjuang.
Nilai-nilai adat, gotong royong, dan kearifan lokal tidak boleh hilang di balik kurikulum modern.

Mungkin akan lahir program seperti Sekolah Meutaloe Nanggroe — sekolah yang menanamkan cinta tanah air Aceh, bukan lewat slogan, tapi lewat aksi nyata di desa-desa.

Sebagai figur publik yang berani bersuara, Abu Laot bisa menghidupkan ruang diskusi antara guru, siswa, dan masyarakat.

Sekolah bukan lagi ruang diam, tapi tempat menyuarakan ide, kritik, dan solusi. Guru diajak menjadi intelektual rakyat, bukan birokrat pengisi absen.

Siswa diberi panggung untuk berkreasi, bukan sekadar ujian formalitas. Kreativitas menjadi model pendekatan moderen dalam inovasi yang bermanfaat dan berkelanjutan.

Abu Laot sedang meniti gelombang besar. Laut yang ia simbolkan bukan hanya hamparan air, tapi samudra ilmu dan pengalaman hidup rakyat.

Jika cita-cita itu “terhujut” — terwujud dengan sungguh — maka pendidikan Aceh bisa menjadi mercusuar baru, memanusiakan manusia lewat ilmu, kerja, dan keadilan.

Abu dan laot, dua suku kata bernilai simbolik

Nama “Abu” dan “Laot” memang kaya makna simbolik jika dibaca melalui kacamata kajian seni dan budaya Aceh.

Dalam tradisi Aceh, sebutan “Abu” dilekatkan pada seseorang yang berilmu, dituakan, dan menjadi rujukan moral.

“Abu” bukan hanya gelar keagamaan, tapi juga lambang bagi sosok yang membakar dirinya untuk menerangi orang lain — seperti abu yang tersisa setelah api menyalakan cahaya.

Dalam kajian seni simbolik, “Abu” dapat ditafsirkan sebagai Representasi dari simbol transformasi — dari benda padat menjadi debu yang menyebar, dari pengetahuan pribadi menjadi hikmah publik.

Maka, ketika nama “Abu” dilekatkan pada seseorang seperti Murthalamuddin, ia menjadi personifikasi dari guru rakyat — bukan hanya mengajar di ruang kelas, tapi membakar semangat masyarakat melalui nilai dan narasi.

“Laot” (laut) dalam kesenian Aceh sering digunakan sebagai metafora kehidupan dan ilmu pengetahuan. Laut adalah ruang yang luas, tak terbatas, penuh misteri, dan sumber kehidupan. Ia mengajarkan keseimbangan, tenang di permukaan, namun bergejolak di dasar.

Dalam estetika simbolik, laut sering mewakili kedalaman pengetahuan tak mudah diukur, tapi menyimpan banyak makna dan nilai.

laut mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah titik kecil di tengah luasnya ciptaan Tuhan.

Dengan demikian, “Abu Laot” bisa dimaknai sebagai “panutan, guru yang selalu menuntun cita cita yang bisa di peroleh dengan ilmu pengetahuan yang begitu luas serti laut yang menjadi samudra pengetahuan”.

Jika dibaca melalui perspektif seni pendidikan, nama “Abu Laot” menjadi konsep estetika sosial — bagaimana seni berpadu dengan nilai pendidikan dan spiritualitas.
Seni dalam pandangan ini bukan hanya ekspresi rasa, tapi alat penyadaran sosial.

Maka, apa yang dilakukan Murthalamuddin lewat video-videonya di TikTok dan Facebook — tentang mak-mak penjual tiram, petani, nelayan atau tukang daging serta anak anak memotong jerami— bukanlah sekadar konten visual, melainkan performans seni sosial.
Ia sedang melukis wajah Aceh melalui kisah-kisah rakyat kecil — menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai kanvas kesadaran kolektif.

Dalam kajian seni, “Abu Laot” bukan sekadar nama pribadi, tapi konsep estetik yang hidup dan terus tumbuh dalam idiologi rakyat. Harapan Abu Master.

Redaksi

http://hababerita.com

Lihat Dunia Lebih Dekat

Related post