M. Nasir Syama’un Sekda Aceh yang Aktif, Responsif, dan Peduli Menyeluruh
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir. [Dok : Istimewa]
Banda Aceh, HabaBerita.com — Dalam dinamika pemerintahan yang menuntut kecepatan, transparansi, dan responsivitas tinggi, sosok M. Nasir Syama’un menonjol sebagai salah satu birokrat yang aktif dan progresif di Aceh saat ini.
Sejak dilantik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir tampil sebagai motor penggerak roda pemerintahan Aceh yang tidak hanya bekerja dalam aktif, tapi juga hadir nyata di berbagai lini isu strategis — dari reformasi birokrasi, penanganan bencana, hingga pelayanan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
Berbeda dari gaya birokrasi konvensional yang cenderung administratif dan pasif, M. Nasir membawa pendekatan kerja yang proaktif. Ia turun ke lapangan, memantau langsung progres pembangunan, serta mengadakan rapat lintas dinas secara komprehensif untuk mempercepat proses pelayanan publik.
“Birokrasi bukan menunggu, tapi menjawab. Kita tidak bisa bekerja hanya dari balik meja,” tegas M. Nasir dalam salah satu forum koordinasi bersama SKPA.
Beberapa waktu terakhir, Aceh mengalami rangkaian bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di sejumlah kabupaten. M. Nasir tidak hanya mengoordinasikan tanggap darurat dari kantor, tapi juga terjun langsung ke lokasi terdampak. Ia memastikan distribusi logistik, pemulihan layanan publik, serta menampung aspirasi masyarakat korban bencana secara langsung.
Pendekatan humanis ini menciptakan kepercayaan tinggi dari publik. Warga di daerah menyebut beliau sebagai “Sekda yang hadir saat rakyat susah”.
Di balik kesibukannya, M. Nasir juga terus mendorong reformasi birokrasi. Ia menjadi pelopor penguatan sistem e-Government di Aceh, termasuk digitalisasi pelayanan perizinan, keuangan daerah, dan sistem kepegawaian terpadu.
Reformasi ini berhasil mempercepat proses layanan publik dan mendorong kinerja ASN lebih transparan.
Salah satu hal paling menonjol dari gaya kepemimpinan M. Nasir adalah kepeduliannya yang menyeluruh. Ia tidak hanya fokus pada isu pembangunan infrastruktur, tapi juga aktif dalam persoalan pendidikan, kesehatan, sosial-keagamaan, lingkungan hidup, dan bahkan UMKM.
Dalam rapat lintas sektor, ia dikenal kritis terhadap SKPA yang tidak hadir penuh terhadap kebutuhan masyarakat. “Jangan pilih-pilih kerja. Semua sektor penting kalau menyangkut rakyat,” ujarnya dalam sebuah evaluasi triwulan.
M. Nasir juga dikenal sebagai figur yang terbuka dan mendukung kolaborasi lintas sektor. Ia rutin berdialog dengan tokoh masyarakat, akademisi, LSM, dan kalangan pers untuk menyerap kritik dan masukan. Sikap ini membuat birokrasi di Aceh terasa lebih cair dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Dalam situasi daerah yang penuh tantangan — tekanan sosial, bencana alam, hingga tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi — Aceh beruntung memiliki sosok Sekda seperti M. Nasir Syama’un. Sosok yang aktif, responsif, berpikir strategis, dan sekaligus peduli terhadap persoalan-persoalan paling mendasar masyarakat.
M. Nasir Dibawah nahkoda Mualem, Bukan hanya pemimpin administratif, M. Nasir adalah figur penggerak perubahan. (*)