Gubernur PEMA FISIP UTU Desak PEMA Mundur: Jangan Sandera Nama Mahasiswa
Meulaboh, HabaBerita.com — Gubernur Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Teuku Umar (UTU), Nakrib, secara terbuka meminta Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) UTU untuk segera mengundurkan diri.
Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas rilis yang menyebut PEMA UTU lumpuh total dan gagal menjalankan mandat organisasi.
Nakrib menegaskan bahwa desakan mundur tersebut bukan tanpa dasar.
Menurutnya, hingga saat ini PEMA UTU tidak menunjukkan itikad serius untuk melakukan pembenahan kelembagaan, meskipun telah diberikan Surat Peringatan Pertama (SP1) oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UTU sejak September 2024.
“Jika memang tidak sanggup menjalankan amanah, maka langkah paling terhormat adalah mundur. Jangan terus menyandera nama mahasiswa UTU dengan kepemimpinan yang pasif dan tidak bekerja,” tegas Nakrib. Jum’at (6/2/2026).
Ia menilai, kemandekan PEMA UTU telah berdampak langsung pada lumpuhnya gerakan mahasiswa di tingkat universitas. PEMA yang seharusnya menjadi pusat koordinasi, advokasi, dan konsolidasi justru gagal hadir dalam isu-isu strategis kampus maupun persoalan sosial di daerah.
“PEMA bukan sekadar simbol struktural. Ia adalah representasi suara mahasiswa. Ketika suara itu hilang, maka legitimasi PEMA juga gugur dengan sendirinya,” ujarnya.
Nakrib menambahkan bahwa mahasiswa UTU membutuhkan kepemimpinan yang berani, responsif, dan mampu bergerak cepat dalam merespons persoalan kampus serta kepentingan mahasiswa secara luas. Menurutnya, kondisi PEMA UTU hari ini justru memperlihatkan krisis kepemimpinan yang tak bisa lagi ditoleransi.
“Saya, selaku Gubernur PEMA FISIP UTU, secara tegas meminta PEMA UTU untuk mundur secepat mungkin demi menjaga marwah gerakan mahasiswa dan menyelamatkan nama baik UTU,” pungkasnya. (*)