AI Butuh Air: Ketika Sumber Daya Alam Menjadi Taruhan Era Digital
Oleh: Faizah Maulina
Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa ketika mengetik pertanyaan kepada AI, ada sumber daya alam yang ikut bekerja di balik layar. Kita hanya melihat tulisan yang muncul dalam hitungan detik. Namun, di balik layar tersebut terdapat pusat data berisi komputer dan server yang bekerja dengan daya komputasi sangat besar. Mesin-mesin itu membutuhkan listrik dan menghasilkan panas, sehingga harus didinginkan. Pada sistem tertentu, proses pendinginan tersebut menggunakan air.
Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan yang menarik sekaligus penting: ketika dunia semakin membutuhkan AI, apakah kebutuhan terhadap air juga akan ikut meningkat?
Pertanyaan ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data di seluruh dunia akan meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. IEA juga menyebut AI sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Bahkan, konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI diperkirakan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan konsumsi pusat data secara keseluruhan. Memang, angka tersebut adalah angka konsumsi listrik, bukan angka penggunaan air. Namun, keduanya memiliki hubungan yang tidak dapat diabaikan.
Ketika AI Membutuhkan Pendinginan
Sistem AI membutuhkan perangkat komputasi berkemampuan tinggi. Semakin berat pekerjaan komputasi yang dilakukan, semakin besar pula panas yang harus dikelola oleh pusat data. Salah satu cara untuk mengatasi panas tersebut adalah menggunakan sistem pendinginan berbasis air.
Air dapat digunakan secara langsung dalam proses pendinginan, misalnya melalui sistem yang memanfaatkan penguapan. Selain itu, terdapat pula penggunaan air secara tidak langsung melalui pembangkit listrik yang memasok energi ke pusat data.
World Bank menjelaskan bahwa pusat data memang tidak hanya membutuhkan energi, tetapi juga dapat membutuhkan air dalam jumlah besar. Namun, penggunaan air tersebut sangat bergantung pada lokasi, iklim, desain bangunan, sumber listrik, serta teknologi pendinginan yang digunakan. Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa setiap penggunaan AI memiliki jumlah penggunaan air yang sama.
Hal yang menjadi persoalan justru ketika pusat data dalam jumlah besar dibangun di satu wilayah yang sumber airnya terbatas.
Secara global, penggunaan air oleh pusat data masih lebih kecil dibandingkan sektor-sektor seperti pertanian. Akan tetapi, persoalannya dapat menjadi serius secara lokal. World Bank memperingatkan bahwa konsentrasi pusat data di wilayah tertentu dapat menimbulkan persaingan dengan kebutuhan rumah tangga, industri, pertanian, dan lingkungan. Kondisi tersebut semakin penting bagi negara berkembang yang sedang berlomba menarik investasi infrastruktur AI.
Artinya, persoalan AI dan air bukan hanya tentang berapa banyak air yang digunakan, tetapi juga di mana air itu digunakan dan siapa yang membutuhkan air tersebut pada saat yang sama.
Dari Teknologi Menjadi Persoalan Geopolitik
Di sinilah isu AI mulai berhubungan dengan geopolitik. Saat ini negara-negara tidak hanya berlomba mengembangkan model AI. Mereka juga berlomba menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan AI: pusat data, listrik, jaringan telekomunikasi, semikonduktor, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Negara yang mampu menyediakan infrastruktur tersebut memiliki peluang mendapatkan investasi, lapangan kerja, dan posisi lebih kuat dalam ekonomi digital. Namun, membangun pusat data tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan dan listrik. Air juga dapat menjadi bagian dari pertimbangan lokasi.
World Bank pada 2026 menyoroti bahwa kebutuhan air pusat data dapat menjadi persoalan ketika investasi digital berkembang di wilayah yang mengalami tekanan terhadap sumber daya air. Wilayah yang memiliki iklim panas juga dapat menghadapi kebutuhan pendinginan yang lebih besar. Karena itu, keputusan mengenai lokasi pusat data bukan lagi sekadar keputusan bisnis, tetapi mulai berkaitan dengan tata kelola sumber daya dan kepentingan masyarakat setempat.
Dalam konteks inilah air dapat dipandang sebagai bagian dari geopolitik era digital. Bukan berarti dunia sedang mengalami “perang air karena AI”. Pernyataan seperti itu terlalu berlebihan. Namun, ketika negara-negara bersaing menjadi pusat ekonomi digital, ketersediaan air, energi, lahan, dan infrastruktur dapat ikut menentukan siapa yang mampu menarik investasi teknologi dan siapa yang tidak. Persaingan teknologi pada akhirnya tidak hanya terjadi di ruang digital. Ia juga terjadi di dunia nyata, tempat sumber daya alam memiliki batas.
Indonesia: Peluang Besar, Tantangan Besar
Indonesia tentu tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan ini. Sebagai negara dengan pasar digital yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk menarik investasi pusat data dan mengembangkan ekosistem AI. Kehadiran infrastruktur digital dapat membantu berbagai sektor, mulai dari pendidikan, bisnis, layanan publik, kesehatan hingga penelitian.
Tetapi peluang tersebut harus disertai perencanaan yang matang. Indonesia memiliki sumber daya air yang besar, tetapi bukan berarti semua wilayah Indonesia memiliki ketersediaan air yang tidak terbatas. Ketersediaan air berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya dan dapat berubah akibat musim, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, serta aktivitas ekonomi.
Karena itu, pembangunan pusat data tidak seharusnya hanya dinilai dari berapa besar investasi yang masuk atau berapa banyak lapangan kerja yang tercipta. Pemerintah juga perlu mempertanyakan berapa besar kebutuhan airnya, dari mana air tersebut diperoleh, bagaimana dampaknya terhadap masyarakat sekitar, dan apakah sumber air tersebut mampu bertahan dalam jangka panjang.
Pertanyaan tersebut penting terutama jika Indonesia ingin menjadikan pusat data dan AI sebagai bagian dari strategi ekonomi digital nasional. Jangan sampai kita berhasil mendatangkan teknologi masa depan, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tekanan baru terhadap sumber daya yang dibutuhkan masyarakat hari ini.
Bukan Berarti Kita Harus Menolak AI
Membicarakan penggunaan air oleh AI bukan berarti kita harus menolak perkembangan teknologi. Justru sebaliknya. Kita membutuhkan AI yang berkembang secara lebih bertanggung jawab. AI memiliki potensi besar untuk membantu mengatasi berbagai persoalan lingkungan. Teknologi ini dapat digunakan untuk memperkirakan kekeringan, memantau perubahan lingkungan, mendeteksi kebocoran air, meningkatkan efisiensi irigasi, hingga membantu pemerintah mengambil keputusan berdasarkan data. Masalahnya bukan pada keberadaan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut dibangun dan dikelola.
Perusahaan teknologi perlu meningkatkan efisiensi pusat data, menggunakan teknologi pendinginan yang lebih hemat air jika memungkinkan, memanfaatkan air daur ulang atau sumber air non-potabel ketika sesuai, serta lebih transparan mengenai penggunaan air mereka. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa investasi pusat data tidak berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan tata kelola sumber daya air. Kajian mengenai ketersediaan air seharusnya menjadi bagian dari perencanaan pembangunan pusat data, terutama di wilayah yang sudah mengalami tekanan air.
Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi negara yang mengonsumsi AI, tetapi juga negara yang mampu mengelola dampak dari infrastruktur yang menopang AI.
Jangan Sampai AI Terlalu Pintar, tetapi Kita Lupa pada Air
Perkembangan AI mungkin akan mengubah cara manusia bekerja, belajar, berbisnis, bahkan mengambil keputusan. Namun, secanggih apa pun teknologi tersebut, AI tetap bergantung pada sesuatu yang sangat sederhana: listrik, infrastruktur, dan sumber daya alam.
Air menjadi salah satu pengingat bahwa revolusi digital sebenarnya tidak sepenuhnya “digital”. Di balik layar yang terlihat bersih dan canggih, terdapat pusat data, jaringan listrik, bangunan, lahan, serta sumber daya alam yang membuat semuanya dapat berjalan. Karena itu, ketika dunia berlomba membuat AI semakin pintar, kita juga perlu memastikan bahwa teknologi tersebut tidak dibangun dengan mengabaikan keterbatasan alam.
AI boleh semakin cerdas. Investasi digital boleh semakin besar. Tetapi air tetap harus diperlakukan sebagai sumber daya untuk kehidupan, bukan sekadar biaya operasional sebuah pusat data.
Sebab pada akhirnya, manusia mungkin bisa membuat teknologi yang mampu menjawab jutaan pertanyaan dalam hitungan detik. Namun, kita tetap harus memastikan bahwa ketika teknologi itu tumbuh, air untuk kehidupan tidak justru menjadi taruhannya. (*)