Tidak Masalah Dollar 20 Ribu, Yang Penting Timnas Menang!

 Tidak Masalah Dollar 20 Ribu, Yang Penting Timnas Menang!

Oleh: Ramadhan Al Faruq, Pecinta Sepakbola dari Aceh

“Tak apa dolar tembus Rp20 ribu. Tak apa harga kebutuhan pokok naik. Tak masalah koruptor mencuri uang rakyat hingga triliunan rupiah. Tak masalah pelayanan publik amburadul. Tak masalah berbagai persoalan hukum dan keadilan terus menyisakan tanda tanya. Yang penting Timnas menang.”

Mungkin demikian pesan yang secara tidak sadar terkirim ketika saya melihat euforia atas kemenangan Timnas Indonesia yang seolah mampu menenggelamkan berbagai persoalan yang sedang dihadapi negeri ini.

Tentu tidak ada yang salah dengan mendukung Timnas. Tidak ada yang keliru dengan rasa bangga ketika Merah Putih berkibar dan Indonesia meraih kemenangan. Namun persoalannya muncul ketika euforia olahraga berubah menjadi ruang pelarian massal yang membuat publik melupakan persoalan-persoalan yang jauh lebih mendasar.

Politik, korupsi, dan sepakbola pada dasarnya adalah tiga hal yang berbeda. Namun dalam praktiknya, ketiganya sering kali saling beririsan, saling mempengaruhi, bahkan terkadang saling membutuhkan.

Sepakbola hari ini bukan lagi sekadar olahraga. Ia telah berkembang menjadi industri besar yang melibatkan kekuasaan, pengaruh, citra publik, dan tentu saja perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu, sangat sulit membayangkan sepakbola benar-benar steril dari kepentingan politik maupun potensi praktik korupsi.

Politik dan Sepakbola

Hubungan politik dan sepakbola bukanlah hal baru. Di banyak negara, sepakbola sering menjadi instrumen yang digunakan untuk membangun citra, memperluas pengaruh, atau memperoleh dukungan publik.

Bagi politisi, sepakbola menawarkan panggung yang sangat efektif untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Popularitas sebuah klub atau tim nasional dapat menjadi kendaraan politik yang luar biasa kuat. Sebaliknya, dunia sepakbola yang membutuhkan dukungan anggaran, fasilitas, maupun investasi sering kali bergantung pada figur-figur politik yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut.

Karena itulah kita kerap melihat klub sepakbola yang tumbuh pesat ketika musim politik tiba, lalu mengalami penurunan ketika kepentingan politik berakhir. Dalam banyak kasus, keberlangsungan sebuah klub bahkan sangat bergantung pada siapa yang sedang berkuasa.

Pada level internasional, keterkaitan politik dan sepakbola juga dapat dilihat dari rivalitas antara Real Madrid dan FC Barcelona yang selama puluhan tahun tidak hanya dipandang sebagai persaingan olahraga semata, tetapi juga merepresentasikan dinamika politik dan identitas yang lebih luas di Spanyol.

Sepakbola memang dimainkan di lapangan, tetapi pengaruh terhadapnya sering kali lahir jauh dari lapangan itu sendiri.

Korupsi dalam Sepakbola

Sebagai industri yang melibatkan dana besar, sepakbola juga tidak kebal terhadap praktik korupsi.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari pengaturan skor, suap terhadap perangkat pertandingan, penyalahgunaan dana klub, hingga praktik-praktik tidak transparan dalam pengelolaan organisasi sepakbola.

Sepakbola Indonesia sendiri bukanlah wilayah yang asing dengan isu semacam ini. Berbagai kasus pengaturan pertandingan maupun dugaan penyimpangan tata kelola pernah muncul dan mencoreng integritas kompetisi.

Di tingkat internasional, FIFA pun pernah diguncang berbagai skandal korupsi yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi organisasi tersebut. Kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa ketika uang dan kekuasaan bertemu tanpa pengawasan yang kuat, potensi penyimpangan akan selalu ada.

Korupsi bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga merusak esensi sepakbola itu sendiri. Nilai sportivitas, kompetisi yang adil, dan kepercayaan publik menjadi korban utamanya.

Sepakbola dan Pengalihan Perhatian Publik

Yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana sepakbola sering kali menjadi ruang yang sangat efektif untuk mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan lain.

Dalam situasi tertentu, keberhasilan tim nasional atau kemeriahan sebuah turnamen dapat menyedot perhatian masyarakat sedemikian besar hingga isu-isu penting lain seolah menghilang dari ruang publik.

Kita pernah menyaksikan bagaimana perdebatan politik, kasus-kasus korupsi besar, hingga berbagai persoalan ekonomi mendadak tenggelam ketika masyarakat disuguhi hajatan sepakbola berskala besar.

Sekali lagi, bukan berarti sepakbola yang salah. Sepakbola memang hadir untuk menghibur dan mempersatukan. Namun publik juga perlu menyadari bahwa kegembiraan atas kemenangan di lapangan tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis terhadap apa yang terjadi di luar lapangan.

Karena kemenangan Timnas tidak otomatis menurunkan harga kebutuhan pokok. Gol yang tercipta tidak serta-merta memberantas korupsi. Lolosnya Indonesia ke putaran berikutnya tidak serta-merta memperbaiki pelayanan publik atau menghadirkan keadilan hukum yang lebih baik.

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa sepakbola adalah hal yang indah. Ia mampu menyatukan jutaan orang yang berbeda latar belakang dalam satu perasaan yang sama. Namun justru karena kekuatannya yang begitu besar, sepakbola juga bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk membentuk opini dan mengarahkan perhatian publik.

Mendukung Timnas adalah sesuatu yang wajar. Merayakan kemenangan adalah hak setiap warga negara. Tetapi di saat yang sama, kita juga tidak boleh melupakan persoalan-persoalan yang menyangkut masa depan bangsa.

Sebab mencintai sepakbola tidak harus membuat kita berhenti mengawasi kekuasaan. Dan merayakan kemenangan di lapangan tidak berarti kita harus menutup mata terhadap berbagai kekalahan yang sedang dialami rakyat di luar lapangan.(*)

Redaksi

http://hababerita.com

Lihat Dunia Lebih Dekat

Related post