BEM Pertanian UTU: PEMA Sudah Mati Fungsi—Bertahan Hanya Mempermalukan Mahasiswa
Meulaboh, HabaBerita.com — Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU), Fahmi Siregar, menyatakan bahwa Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) UTU telah mati fungsi dan tidak lagi layak menyandang mandat sebagai representasi mahasiswa.
Kepada HabaBerita.com, Ia menegaskan, kritik keras mahasiswa terhadap PEMA UTU adalah cerminan realitas kampus yang selama ini dibiarkan rusak tanpa perlawanan.
Fahmi menilai, kondisi internal kampus hari ini dipenuhi persoalan serius yang tak kunjung selesai, sementara PEMA UTU secara sadar memilih bungkam.
Mulai dari problem akademik, pelayanan mahasiswa, hingga kebijakan internal kampus yang merugikan mahasiswa, semuanya berlalu tanpa satu pun sikap tegas dari PEMA.
“Masalah kampus menumpuk, mahasiswa berteriak, tapi PEMA menghilang. Ini bukan lagi kelalaian, ini pembiaran yang disengaja,” tegas Fahmi.
Ia menyebut, PEMA UTU tidak hanya gagal bekerja, tetapi juga gagal memahami makna keberadaannya sendiri. Struktur yang seharusnya menjadi pusat advokasi justru berubah menjadi simbol kosong yang hanya aktif saat kepentingan seremonial.
“PEMA hari ini hidup secara struktural, tapi mati secara fungsional. Bertahan dalam kondisi seperti ini hanya mempermalukan nama mahasiswa UTU,” ujarnya.
Fahmi juga menegaskan bahwa rilis mahasiswa yang menyebut PEMA UTU lumpuh total sangat tepat dan tidak berlebihan. Bahkan menurutnya, istilah “lumpuh” masih terlalu lunak untuk menggambarkan kondisi sebenarnya.
“Kalau tidak bekerja, tidak bersuara, dan tidak mengadvokasi, maka secara moral PEMA sudah gugur. Tidak ada lagi legitimasi untuk berbicara atas nama mahasiswa,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa jika PEMA UTU tetap memaksakan diri bertahan, maka krisis kepercayaan mahasiswa akan berubah menjadi krisis terbuka yang sulit dibendung.
“PEMA UTU dihadapkan pada satu pilihan: mundur secara ksatria atau dicatat sejarah sebagai pemerintahan mahasiswa paling gagal di UTU. Mahasiswa tidak akan terus diam,” pungkas Fahmi. (*)